Sekolah Semut-Semut menyediakan pendidikan formal yang memerdekakan anak sesuai potensi dan kecerdasan, serta membangun karakter anak sesuai nilai-nilai Islami di tengah perubahan dan tantangan abad 21.
Masa belajar di sekolah dasar adalah waktu-waktu yang sangat menyenangkan. Belajar dan bermain, bersenang-senang dengan teman, serta mengembangkan rasa ingin tahu tentang apa saja. (Ah, andai kita sebagai orangtua bisa kembali ke masa-masa kecil di sekolah yang menyenangkan).
Benar, ini masa perkembangan kepribadian dan karakter anak yang paling penting. Jadi lebih utama ketimbang formalitas belajar yang menekankan pencapaian nilai-nilai akademik semata.
Sekolah Semut-Semut adalah sekolah inklusif yang berlandaskan Islam. Informasi ini memang tidak terlalu mengemuka, lantaran sejak awalnya Semut-Semut telah menjadi sekolah dengan kesempatan terbuka bagi anak berkebutuhan khusus, sejauh mampu ditangani, tersedia kapasitas tempat (terbatas), dan orangtua bisa bekerjasama dalam proses pendidikan anak.
Sejumlah siswanya merupakan siswa/anak berkebutuhan khusus, yang belajar bersama dengan siswa reguler di kelas 1 sampai kelas 6. (Juga di jenjang SMP, sekolah SMP Indonesia Natural School juga menerima siswa anak berkebutuhan khusus (kapasitas terbatas).
Kondisi ini merupakan anugrah pembelajaran yang berharga, untuk membiasakan sikap toleran, menerima perbedaan, menerima kelebihan dan kekurangan, saling tolong menolong, tanpa bullying. Menerima dan menghargai perbedaan berarti kita bersikap humanis, atau menghargai kemanusiaan.
Pertemanan di antara siswa menjadi persahabatan yang hangat, tanpa bullying atau merendahkan. Pertemanan yang baik menumbuhkan rasa aman bagi siswa saat berada di sekolah, sehingga melahirkan kegembiraan dan akhirnya mendukung kesenangan belajar. Hindari tekanan, beban, atau trauma belajar. Belajar adalah sesuatu yang kita sukai, kita butuhkan, dan akan membawa kita menjadi apa yang kita idamkan kelak.
Hubungan yang erat dengan para guru. Guru berusaha selalu ada mendampingi siswa. Bersikap membantu, terbuka jadi teman diskusi dan curhat siswa. Guru yang suka memuji dan membesarkan hati anak. Guru yang menerapkan pembelajaran yang aktif banyak berkarya (by hand), dengan cerdas dan kreatif (by head), yang energik, trampil dan gesit (by health), mengasihi dengan hati (by heart).
Menanamkan nilai yang baik pada anak, tentu memerlukan pembiasaan. Setiap kali anak berlaku salah, maka anak segera diberikan penyadaran dan penguatan nilai-nilai. Jika salah terhadap teman, segera didamaikan dan meminta maaf. Dalam komunitas Semut-Semut, kesemuanya berupaya untuk berperilaku baik, sopan, menghargai orang lain, sesuai ahlak agama Islam. Pembiasaan dan penguatan nilai-nilai akan melahirkan sikap karakter yang baik pada anak. Iklim belajar dan suasana yang kondusif bagi proses belajar mengajar.
Sejatinya, program sekolah memang harus berorientasi pada perkembangan kepribadian anak. Mengembangkan minat dan kesukaan anak, ini sebuah pemenuhan harga diri yang akhirnya membentuk rasa percaya diri dan kemandirian.
Kesenangan belajar, kegembiraan bersekolah, perasaan nyaman bersekolah, perasaan dihargai, pada akhirnya mendorong sikap positif, percaya diri, tanggungjawab, dan kemandirian.
Anak yang percaya diri (PD) dan mandiri akan menjadi pembelajar dan punya rasa tanggungjawab. Mereka akan belajar tanpa disuruh, karena menyadari belajar itu merupakan kebutuhan, dan dapat dijalani secara menyenangkan. Akhirnya, sebagai pembelajar, tentu akan mendapatkan pencapaian nilai akademik yang optimal sesuai kemampuan anak.

Pada tahun ajaran 2018/19 yang baru berlalu, SD Semut-Semut telah meluluskan 12 angkatan siswa. Kini dengan 18 rombongan belajar, atau 3 rombel per kelas. Menempati bangunan berlantai 3, sebagai bangunan utama di komplek pendidikan Semut-Semut. (Ada unit TK dan PG juga). Setiap rombongan belajar dengan 25-28 anak, didampingi oleh 2 orang guru kelas.
Perjalanan sekolah SD Semut-Semut telah melalui waktu yang cukup lama untuk proses belajar berkembang sebagai sebuah komunitas sekolah/pendidikan. Senantiasa ingin berbenah diri untuk selalu update berkontribusi bagi masyarakat dan dunia pendidikan nasional umumnya.
Gedung SD bertingkat tiga, yang kita lihat saat ini, merupakan gedung sekolah yang tumbuh berproses dalam waktu cukup panjang.
Dahulu lingkungan alam sekolah Semut-Semut berupa kebun yang berisikan pohon rambutan, belimbing dewa, mangga, dan kelapa. Suasana kebun hingga kini tetap dipertahankan, ditandai dengan pepohonan yang rimbun dan tinggi-tinggi.
Awalnya, unit SD kelas 1 pada tahun 2003, menempati ruang kelas pada bangunan sederhana di sudut sekolah, yang kini menjadi bagian kelas Playgrup.
Kemudian pada tahun 2004, dengan ijin Allah SWT dan kerja keras pengurus pendiri Yayasan Semut Beriring, siswa SD berhasil menempati bangunan baru (ketika itu 1/2 bagian lantai 1). Dan kemudian dua tahun berikutnya, terbangunlah keseluruhan lantai 1 dan lantai 2.
Tahap terakhir, adalah pembangunan lantai 3 yang sekarang ditempati oleh kelas 5 dan 6. Di sini pun sering digunakan untuk kegiatan pelatihan, seminar, dan pareting. Pembangunan ini dilakukan bertahap, dan memakan waktu sekitar 6 tahun.
Proses pembangunan yang cukup panjang ini, menjadi penanda tentang sebuah sekolah yang tumbuh bersama para orangtua yang menginginkan sebuah pelayanan pendidikan yang dapat memenuhi kebutuhan anak.
Jati diri bangsa Indonesia, yang religius, ramah, kaya tradisi seni budaya, dan sikap suka menolong bergotong royong, sebagaimana menjadi landasan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, menjadi acuan bagi penyelenggaraan pendidikan di sekolah Semut-Semut the Natural School. “Pendidikan adalah perjuangan kebudayaan,” begitu titip pesan Ki Hajar.
Karena itu, di pagi hari selalu diperdengarkan musik berupa lagu nasional, lagu tradisi, dan lagu anak-anak, sebagai upaya mendekatkan anak pada khasanah keIndonesiaan. Juga kegiatan permainan tradisional, kelas musik dengan alat angklung dan arumba, serta berbagai olah seni tradisi, menjadi penguat keIndonesiaan dan kebangsaan dalam diri anak.

Pada waktu khusus, seperti hari Jum’at, diperdengarkan lagu dan ayat suci, serta ibadah dhuha berjamaah, diisi dengan ceramah dan games, sehingga suasana keIslaman sangat terasa.

Sebagai sekolah swasta, meski menginduk ke Pendidikan/Kurikulum Nasional, sekolah Semut-Semut memiliki ‘ruang’ untuk melakukan pengayaan pendidikan sesuai kekhasan pendidikan natural yang dikembangkannya.
Komunikasi harus menjadi ketrampilan yang dibekalkan pada siswa. Di sekolah Semut-Semut, siswa didorong untuk lebih berani menyampaikan pendapat dan menampilkan dirinya. Kemampuan berkomunikasi paralel dengan peningkatan kecerdasan anak. Makin trampil berkomunikasi, maka proses berfikir anak makin baik. Kesempatan siswa bicara, yang selama ini terbatasi dengan konten kurikulum, dapat terwadahi melalui metode belajar aktif yang banyak menampilkan eksplorasi, observasi, dan presentasi. Kebiasaan belajar kelompok (kooperatif dan kolaboratif) mendorong berbicara lebih banyak.
Layout kelas yang dinamis, dengan model pembelajaran aktif dan teacher center, memungkinkan beragam cara komunikasi terjadi. Misal, berkelompok 4 orang mengerjakan tugas bersama pada 1 meja. Anggota kelompok dibuat berganti-ganti sesuai tema pembelajaran, agar anak terbiasa bekerjasama dengan siapa pun. Format lain, anak duduk di lantai mendengarkan guru yang duduk berbicara.
Guru yang telah memetakan karakter dan gaya belajar anak, yang berbeda dan unik, memadukan anak-anak yang berkarakter saling melengkapi, sehingga kelompok menjadi produktif dapat mengisi menyelesaikan tugas.
Contoh lain, presentasi. Anak diminta tampil di muka kelas, baik sendiri atau berkelompok, menjelaskan tentang suatu topik yang dipilihnya. Kesempatan tampil ini diberikan bergilir. Diharapkan, terbentuk sikap percaya diri untuk berani mengungkapkan pikiran dan pendapat.
Keseringan meminta anak bertanya, tampil ke depan, mempresentasikan karya, atau tampil dalam pentas kelas, pameran hingga pertandingan kelas, membuat anak terbiasa berkomunikasi dan tampil. Tak perlu malu, karena tidak akan dipersalahan atau diejek.
Guru pun lebih banyak mendorong anak berefleksi, menulis cerita, uraian, atas tantangan yang diberikan. Baik berupa tulisan atau pun gambar. Buku kerja siswa, yang disediakan sekolah, telah didesain untuk menampung pola kerja anak, baik yang senang mencatat tulisan, mencatat melalui gambar, atau pun membuat mind mapping.
Buku kerja anak, di halaman kiri diberikan halaman kosong untuk menggambarkan sesuatu, dan di halaman sebelah kanan dengan halaman bergaris untuk menulis. Keduanya dapat dimanfaatkan sekaligus, menulis dan membuat gambar di sebelahnya. Generasi anak-anak sekarang cenderung berfikir lebih mudah melalui visual/gambar.
PR atau pekerjaan rumah dibuat lebih menantang dengan mengubahnya menjadi Tantangan Rumah. Beberapa tantangan rumah dikerjakan bersama orangtua. Ini agar anak dapat belajar dan berkomunikasi dengan ayahbunda. Ini sebagai upaya sekolah untuk mendekatkan dukungan orangtua terhadap proses belajar anak, serta mendekatkan anak pada proses berfikir logis.
Juga orangtua atau profesional di bidangnya dihadirkan sebagai guest teacher, sehingga proses pembelajaran makin komunikatif, realistik, dan menyenangkan. Belajar dapat dilakukan dari berbagai sumber, dan lebih menyenangkan.
Ketrampilan berkomunikasi (lisan) dan menulis membaca (literasi) merupakan skill yang penting dibekalkan. Harapannya, anak memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi, serta dapat mencari ilmu pengetahuan dengan kesukaannya membaca (sebagai pembelajar).
Perpustakaan didekatkan dengan keseharian anak, kebiasan membaca terus ditumbuhkan. Literasi (membaca, menulis, berkomunikasi) kini mengalami mengalami tekanan dengan adanya gadget. Sekolah pun mencoba untuk terus membiasakan siswa untuk menulis narasi dalam tugas-tugas kelas.
Keterlibatan siswa dalam program One Day toWrite, yang diasuh oleh Kak Lala Elmira , merupakan sarana pembelajaran bagi siswa yang berminat lebih jauh dalam khasanah sastra dan literasi. Beberapa tulisan siswa terseleksi, terimakasih, telah diterbitkan oleh One Day to Write.
Selain pelajaran menari dan Kepanduan, juga ada kegiatan unik seperti TALENT DAY biasanya di hari Jum’at, dalam 1 mata jam pelajaran (45 menit).
Talent Day berisikan berbagai kegiatan. Seperti, Bengkel Habibie, Fun Cooking, Sahabat Bumi, Art & Craft, Komputer, Musik, Paduan Suara, Tahfiz Quran, dsb. Saat kegiatan ini, anak tidak terbedakan dengan kelas. Jadi pembelajaran kolaboratif untuk mengembangkan hobi minat dan perhatian tentang sesuatu. Anak berkebutuhan khusus juga mengikutinya, dengan pendampingan.
Bengkel Habibie kegiatan siswa merakit benda-benda imajinernya (hias, dll) yang dibuat dari bahan bekas berupa kertas, botol kemasan, kotak kertas, kayu bekas dan logam, dengan dibantu oleh para guru untuk menggunakan lem tembak, gunting, kawat, dan alat pertukangan sederhana. Tujuannya, agar anak kreatif mencipta, dan melatih motorik halusnya menggunakan berberapa alat kerja. Penamaan Habibie sebagai penghormatan terhadap presiden RI ke 3 bapak B.J Habibie, pendiri pabrik pesawat Nurtanio dan ahli pembuat pesawat terbang yang diakui dunia.
Kegiatan Talent Day dibimbing oleh para guru kelas atau mata pelajaran, agar anak-anak sejak dini memiliki minat dan tergali potensinya. Beberapa anak kerap berpindah tim untuk memuaskan rasa ingin tahu atau kesukaannya.
Kegiatan Sahabat Alam, misalnya, dikelola oleh kakak mahasiswa dan alumni fakultas biologi. Juga ada kakak “Biodiversity Warrior” dari Yayasan KEHATI yang mengajak siswa mencintai lingkungan dan keanekaragaman hayati. Beberapa anak dengan peminatan alam lingkungan mendapatkan pin Duta Lingkungan.
Di sore hari, seusai pulang sekolah, para siswa dapat lebih meningkatkan skill atau minatnya, dalam berbagai cabang kegiatan.
Antara lain olahraga futsal, bola basket, taekwondo, panahan, kegiatan musik seperti vokal-gitar, menari, berlatih bahasa Inggris.
(IM)

SEKILAS SD SEMUT-SEMUT
Pada tahun 2019 ini, SD Semut-Semut telah meluluskan 12 Angkatan kelulusan, yang pelepasannya berlangsung dengan ceria dan khidmat di salah satu gedung di Universitas Indonesia.
Perjalanan sekolah SD Semut-Semut telah melalui waktu yang cukup lama untuk belajar sebagai sebuah komunitas sekolah.
Gedung SD bertingkat tiga, yang kita lihat saat ini, merupakan gedung sekolah yang tumbuh berproses dalam waktu cukup panjang.
Dahulu lingkungan alam sekolah Semut-Semut berupa kebun warga, yang berisikan pohon rambutan, belimbing dewa, mangga, dan kelapa. Suasana kebun hingga kini tetap dipertahankan, ditandai dengan pepohonan yang rimbun dan tinggi-tinggi karena sudah usia menua.
Awalnya, unit SD kelas 1 pada tahun 2003, menempati ruang kelas pada bangunan sederhana di sudut sekolah, yang kini menjadi gedung kelas Playgrup.
Kemudian, pada tahun 2004, dengan ijin Allah SWT dan kerja keras para Pengurus dan Pendiri Yayasan Semut Beriring, siswa SD berhasil menempati bangunan baru (ketika itu 1/2 bagian lantai 1). Dan kemudian dua tahun berikutnya, terbangunlah keseluruhan lantai 1 dan lantai 2.
Tahap terakhir, adalah pembangunan lantai 3 yang sekarang ditempati oleh kelas 6, dan menjadi tempat terbuka penyelenggaraan kegiatan seperti pelatihan, seminar, atau parenting. Keseluruhan pekerjaan pembangunan ini dilakukan bertahap, dan memakan waktu sekitar 5 tahun.

Untuk melengkapi fasilitas belajar, ada sarana ruang komputer dan ruang musik di tempat terpisah dengan gedung SD.
Proses pembangunan yang cukup panjang ini, penanda sebuah sekolah yang tumbuh bersama para orangtua yang menginginkan sebuah pelayanan pendidikan yang dapat memenuhi kebutuhan anak.
Mengenali gerak langkah dan perjuangan Semut-Semut, dapat dijabarkan dalam beberapa hal berikut:
Pendidikan itu harus memerdekakan anak dan menghargai jiwa anak.
Itulah esensi dari istilah ‘pendidikan natural’ yang menjadi kredo di sekolah Semut-Semut the Natural School di Kota Depok ini.
Kata natural yang tersemat pada nama sekolah ‘Semut-Semut the Natural School’ memang mengusung paradigma (baru) pendidikan natural, yaitu proses belajar-mengajar yang alami atau natural bagi anak, yaitu yang sesuai dengan proses tumbuh kembang anak, yang dilaksanakan dalam lingkungan belajar yang aman dan nyaman di lingkungan hijau yang asri.
Pendekatan pendidikan natural dapat berjalan lebih optimal di lingkungan sekolah berbasis alam atau lingkungan.
Mengapa?
Sebab, alam merupakan sumber belajar yang menyenangkan bagi anak. Only nature can nurture our innerself – “Alam lah yang merawat kedirian kita”
Bagi siswa jenjang pendidikan dasar (PG, TK, SD), yang penuh rasa ingin tahu, maka alam lingkungan yang terbuka memberi kesempatan yang sangat luas merasakan pengalaman-pengalaman melakukan interaksi -eksplorasi – observasi . Inilah sejatinya yang menumbuhkan proses berfikir kritis.
Memerdekakan anak bermakna bahwa sekolah Semut-Semut menghargai jiwa anak yang penuh rasa ingin tahu, ingin mencoba, penuh spontanitas, kegembiraan, senang bermain sepuasnya, lazim melakukan kesalahan, senang pertemanan, belum paham salah dan benar. Sekolah memfasilitasi kebutuhan dan keinginan anak di usia nya itu.
Di SD Semut-Semut, para guru tidak mengatakan jangan (melarang), tapi terbiasa untuk mengarahkan anak boleh mencoba sesuatu yang ingin dilakukannya dengan cara yang aman. Rasa ingin tahu adalah pintu utama proses belajar.
Menghargai jiwa anak berarti juga menghargai betapa tiap anak itu unik. ‘’Everybody is unique”. Setiap anak berbeda, dalam kepribadian, modalitas, maupun gaya belajar. Tidak dapat mengukur keberhasilan seorang anak dengan membandingkannya dengan siswa lain. Tugas sekolah memberikan pendampingan agar anak dapat mengembangkan talenta dan kepribadiannya masing-masing.
Menghargai jiwa anak berarti juga menghargai setiap kekurangan dan kelebihannya. Pembentukan kepribadian anak berarti secara teratur memperbaiki kekurangan-kekurangannya, sementara di sisi yang lain terus menerus meningkatkan kelebihan-kelebihannya.
Sekolah tidak memberikan hukuman fisik atau psikologis terhadap kesalahan atau kekurangan siswa, tetapi memberikan penyadaran tentang kesalahan atau kekurangan yang ada, dan keinginan memperbaikinya.
Di Semut-Semut berlaku proses penyadaran yang dilakukan dengan penguatan dan pembiasaan terus-menerus. Disiplin yang diinternalisasi dari kesadaran anak, bukan disiplin yang tumbuh karena kuatir mendapat teguran atau hukuman. Berupaya memahami anak dari sisinya yang positif (psikologi positif).
Menghargai jiwa anak berarti juga memberikan kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri, dengan gaya berpakaiannya sendiri, yang cara yang disukainya, tanpa merendahkan atau meninggikan. Anak diterima apa adanya. Tidak ada penyeragaman dalam ekspresi pribadi anak.

Guru yang trampil mengelola berbagai modalitas belajar anak (visual, auditory, kinestetik); memperhatikan berbagai potensi kecerdasan anak (Gardner: multiple intelligence), serta memperhatikan pula berbagai kepribadian khas anak (sangunis, melankolis, plegmatis, dan kholeris).
Uniknya, di Semut-Semut guru senantiasa bersama siswa sejak awal hingga akhir pembelajaran. Tidak ada ruang guru, sehingga guru dan siswa selalu bersama.
Halaman yang luas dan aman bagi anak untuk bergerak, dengan berbagai permainan tradisional, rumah kayu/mini outbound, serta hiasan sekolah yang penuh dengan warna-warni keceriaan. Suara musik yang mengalun lembut sejak kedatangan hingga pulang, mengisi kebutuhan otak kanan anak dengan berbagai imajinasi.
Seluruh area sekolah pun dapat menjadi tempat pembelajaran (moving class). Perpindahan gerak anak (selama di kelas, atau dari kelas ke luar kelas) memberikan kenyamanan dan menghilangkan kejenuhan belajar. Guru dengan cermat memperhatikan kebutuhan ini, dan mengaturnya sesuai waktu yang diperlukan, serta dalam cara-cara pembelajaran yang berbeda-beda.
Untuk Tantangan Rumah, Ayahbunda dapat turut serta dan menjadi faktor terpenting dalam proses tumbuh kembang anak. Tanpa pekerjaan rumah, anak memiliki cukup waktu untuk beristirahat, bermain di sekeliling rumah, atau bermain dengan anggota keluarga. Siswa masih berkesempatan mengembangkan diri dalam klub ekstakuler yang diminati. Tanpa PR, maka Ayahbunda memiliki kesempatan untuk berinteraksi mengembangkan potensi anak.
Penilaian diberikan sesaat sebelum waktu konsultasi. Sehingga orangtua mendapat kesempatan yang cukup memadai untuk mendiskusikan beberapa hal tentang kondisi ananda serta boleh mendapatkan penjelasan terhadap pencapaiannya. Guru kelas harus dapat menjelaskan berbagai kondisi anak, sehingga akan membantu dalam peningkatan kualitas belajar ke depan.
Penamaan Habibie sebagai penghormatan terhadap bapak presiden ke-3 Baharuddin Jusuf Habibie, bapak Teknologi Dirgantara Indonesia yang ahli membuat pesawat terbang, beliau mendirikan pabrik pesawat Nurtanio. Di Bengkel Habibie, kegiatan siswa merakit benda-benda imajinernya (hias, dll) dari bahan bekas (kotak, kardus, botol kemasan, kayu bekas) dibantu guru untuk menggunakan alat (lem tembak listrik, gunting, kawat, dan alat tukang sederhana). Merangsang daya cipta, dan melatih motorik halus.
Program Sahabat Alam, dibantu oleh kakak mahasiswa biologi. Juga ada kakak Biodiversity Warrior (KEHATI) yang mengajak siswa mencintai lingkungan dan keanekaragaman hayati.

19, Budaya Lingkungan. Sekolah yang alami seperti Semut-Semut the Natural School, memberikan kesempatan bagi siswa untuk memahami manfaat lingkungan bagi manusia, dan keinginan untuk merawat alam sebagai warisan masa depan.
Sekolah membiasakan siswa untuk membuang sampah pada tempatnya, sesuai dengan jenisnya (kertas, plastik, organik), hemat air, kantin sehat, makanan sehat (bebas MSG, pengawet dan pewarna makanan), menyiram tanaman, merawat hewan di mini zoo sekolah.
B. PERJUANGAN KEBUDAYAAN
Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan Indonesia berpesan, bahwa “Pendidikan itu sejatinya adalah Perjuangan Kebudayaan“.
Dalam bingkai visi yang lebih luas, tujuan pendidikan nasional Indonesia yang ingin dicapai melalui pembelajaran di sekolah, adalah membentuk masyarakat modern Indonesia yang religius, berkarakter mulia, dan tentu saja cerdas trampil agar mampu berkontribusi dan bersaing dalam era globalisasi.
Hal ini memberikan beberapa konsekwensi penting bagi Semut-Semut:
Anugerah Indonesia yang beragam suku, agama dengan ras, yang dipersatukan dalam negera kesatuan RI berdasarkan Pancasila, Indonesia memiliki kekayaan sosial yang luar biasa.
Setiap tahun, nama-nama kelas berganti-ganti tetapi tetap menggunakan atribut nasional, seperti nama para pahlawan, jenis tanaman langka, pulau-pulau terpencil, dan sebagainya.
Siswa dibelajarkan memahami kekayaan nasional ini, dalam pendekatan pembelajaran multikultural. Misal, dalam kelas intrakurikuler menari, diajarkan berbagai seni tari tradisi. Dalam musik, diperkenalkan musik arumba, angklung, kasidah, dan trash music.

Sekolah juga mengundang tamu dari berbagai kompetensi sebagai guest teacher, yang menambah pemahaman siswa tentang berbagai kebudayaan dan negeri.
Siswa pun mengunjungi berbagai lokasi seni budaya dan sejarah di ibukota, untuk lebih membuka wawasan dan pengetahuan.
Semut-Semut menerapkan pembelajaran terintegrasi (tematik), dengan cara pembelajaran aktif (active learning), serta berbasiskan pendekatan Pembelajaran Abad 21.
Apakah itu pembelajaran model Abad 21?
Siswa menjadi pusat belajar (student center), dan guru menjadi pamong yang memfasilitasi pembelajaran. Suasana pembelajaran berkelompok dan bekerjasama (cooperative dan collaborative), membuat proses belajar yang komunikatif, kreatif, inovatif, dan mencapai taraf berfikir kritis (high order thinking) untuk mencapai pemecahan masalah (problem solving). Inilah ciri dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada ketrampilan yang diperlukan pada era abad 21 kini.
Siswa pun tetap mendapat pembelajaran komputer dan bahasa Inggris, sehingga kelak trampil berteknologi.

Pendekatan pendidikan Abad 21 menekannya pentingnya kemampuan komunikasi dan literasi. Di sekolah Semut-Semut, siswa didorong untuk lebih berani menyampaikan pendapat dan menampilkan dirinya.
Misalnya, saat kerja kelompok ber 4 semeja. Siswa terdorong lebih terbuka untuk berbicara dan berdiskusi. Susunan anggota kelompok yang dibuat berganti-ganti, agar siswa terbiasa berkerjasama dengan siapa pun. Contoh lain, presentasi di muka kelas secara kelompok atau sendiri. Diharapkan, terbentuk sikap percaya diri berani mengungkapkan pendapat.
Kesempatan mengundang anak bertanya, tampil ke depan, mempresentasikan karya, atau tampil dalam pentas kelas, pameran hingga pertandingan kelas, membuat anak terbiasa berkomunikasi dan tampil. Tak perlu malu, karena tidak akan dipersalahan atau diejek. Guru pun lebih banyak mendorong anak berefleksi, menulis cerita, uraian, atas tantangan yang diberikan. Baik berupa tulisan atau pun gambar.

Siswa akan mengenal berbagai isu-isu lokal, nasional, dan internasional, sebagai syarat kelak dapat beradaptasi dan bergaul sebagai warga bangsa dalam globalisasi. Bila dimungkinkan, siswa dapat juga mengunjungi berbagai kegiatan perayaan hari-hari penting tersebut di luar sekolah.
4. SIKAP KEINDONESIAAN
Jati diri bangsa Indonesia, yang religius, ramah, kaya tradisi seni budaya, dan sikap suka menolong bergotong royong, sebagaimana menjadi landasan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, menjadi acuan bagi penyelenggaraan pendidikan di sekolah Semut-Semut the Natural School.
Karena itu, di pagi hari selalu diperdengarkan musik tradisi, lagu anak-anak, sebagai upaya mendekatkan anak pada khasanah keIndonesiaan. Juga kegiatan permainan tradisional, kelas musik (dengan alat angklung dan arumba) serta berbagai olah seni tradisi, menjadi penguat keIndonesiaan dalam diri anak.
Pada waktu khusus, seperti hari Jum’at, diperdengarkan lagu dan ayat suci, serta ibadah dhuha berjamaah, diisi dengan ceramah dan games, sehingga suasana keIslaman sangat terasa.
Pendidikan yang bisa menumbuhkan kreatifitas, rasa senang, bahagia belajar dan bahagia mengajar, hanya dapat tumbuh dalam suasana demokratis dan egaliter.
Suasana GOTONG ROYONG DAN KEKELUARGAAN dalam bekerja dan berkomunitas, baik sesama siswa, sesama guru, dan sesama orangtua dan para guru serta pengelola sekolah, menjadi suatu karunia bagi upaya melangsungkan proses belajar-mengajar yang menyenangkan.
Semoga pengabdian Semut-Semut memberi makna dalam pendidikan nasional Indonesia.
SHORT LIST SEMUT-SEMUT
1.KURIKULUM
2.MAKNA MENGAJAR BAGI KAMI
3.THE GREAT TEACHER
4.EDUCATION FOR ALL
Dengan unit Learning Support Departement atau LSD:
(IM)