Back

Happy Teacher, Cheerfull Kids

Ini ungkapan yang cocok untuk menjelaskan suasana batin warga sekolah Semut-Semut the Natural School. “Guru yang bahagia, dengan siswa-siswa yang ceria”.

Sekolah SemutSemut adalah sekolah inklusif berazaskan Islam, yang menyediakan pendidikan formal yang memerdekakan anak sesuai potensi dan kecerdasan, serta membangun karakter anak sesuai jati diri, dalam suasana pembelajaran alami.

SD Semut-Semut the Natural School
keceriaan bermain kejar-kejaran, mengawali kegembiraan belajar

 

SEKILAS SD SEMUT-SEMUT

Pada tahun 2019 ini, SD Semut-Semut telah meluluskan 12 Angkatan kelulusan, yang pelepasannya berlangsung dengan ceria dan khidmat di salah satu gedung di Universitas Indonesia.

Perjalanan sekolah SD Semut-Semut telah melalui waktu yang cukup lama untuk belajar sebagai sebuah komunitas sekolah.

Gedung SD bertingkat tiga, yang kita lihat saat ini, merupakan gedung sekolah yang tumbuh berproses dalam waktu cukup panjang.

Dahulu lingkungan alam sekolah Semut-Semut berupa kebun warga, yang berisikan pohon rambutan, belimbing dewa, mangga, dan kelapa. Suasana kebun hingga kini tetap dipertahankan, ditandai dengan pepohonan yang rimbun dan tinggi-tinggi karena sudah usia menua.

Awalnya, unit SD kelas 1 pada tahun 2003, menempati ruang kelas pada bangunan sederhana di sudut sekolah, yang kini menjadi gedung kelas Playgrup.

Kemudian, pada tahun 2004, dengan ijin Allah SWT dan kerja keras para Pengurus dan Pendiri Yayasan Semut Beriring,  siswa SD berhasil menempati bangunan baru (ketika itu 1/2 bagian lantai 1). Dan kemudian dua tahun berikutnya, terbangunlah keseluruhan lantai 1 dan lantai 2.

Tahap terakhir, adalah pembangunan lantai 3 yang sekarang ditempati oleh kelas 6, dan menjadi tempat terbuka penyelenggaraan kegiatan seperti pelatihan, seminar, atau parenting.  Keseluruhan pekerjaan pembangunan ini dilakukan bertahap, dan memakan waktu sekitar 5 tahun.

SD Semut-Semut the Natural School
tim building guru, sebelum memulai tugas di tahun ajaran 2019/2020

 

Untuk melengkapi fasilitas belajar, ada sarana ruang komputer dan ruang musik di tempat terpisah dengan gedung SD.

Proses pembangunan yang cukup panjang ini, penanda sebuah sekolah yang tumbuh bersama para orangtua yang menginginkan sebuah pelayanan pendidikan yang dapat memenuhi kebutuhan anak.

Mengenali gerak langkah dan perjuangan Semut-Semut, dapat dijabarkan dalam beberapa hal berikut:

A. Pendidikan Natural

Pendidikan itu harus memerdekakan anak dan menghargai jiwa anak.

Itulah esensi dari istilah ‘pendidikan natural’ yang menjadi kredo di sekolah Semut-Semut the Natural School di Kota Depok ini.

Kata natural yang tersemat pada nama sekolah ‘Semut-Semut the Natural School’ memang mengusung paradigma (baru) pendidikan natural, yaitu proses belajar-mengajar yang alami atau natural bagi anak, yaitu yang sesuai dengan proses tumbuh kembang anak, yang dilaksanakan dalam lingkungan belajar yang aman dan nyaman di lingkungan hijau yang asri.

Pendekatan pendidikan natural dapat berjalan lebih optimal di lingkungan sekolah berbasis alam atau lingkungan.

Mengapa?

Sebab, alam merupakan sumber belajar yang menyenangkan bagi anak. Only nature can nurture our innerself – “Alam lah yang merawat kedirian kita

Bagi siswa jenjang pendidikan dasar (PG, TK, SD), yang penuh rasa ingin tahu, maka alam lingkungan yang terbuka memberi kesempatan yang sangat luas merasakan pengalaman-pengalaman melakukan interaksi -eksplorasi – observasi . Inilah sejatinya yang menumbuhkan proses berfikir kritis.

Memerdekakan anak bermakna bahwa sekolah Semut-Semut menghargai jiwa anak yang penuh rasa ingin tahu, ingin mencoba, penuh spontanitas, kegembiraan, senang bermain sepuasnya, lazim melakukan kesalahan, senang pertemanan, belum paham salah dan benar.  Sekolah memfasilitasi kebutuhan dan keinginan anak di usia nya itu.

Di SD Semut-Semut, para guru tidak mengatakan jangan (melarang), tapi terbiasa untuk mengarahkan anak boleh mencoba sesuatu yang ingin dilakukannya dengan cara yang aman. Rasa ingin tahu adalah pintu utama proses belajar.

Menghargai jiwa anak berarti juga menghargai betapa tiap anak itu unik. ‘’Everybody is unique”. Setiap anak berbeda, dalam kepribadian, modalitas, maupun gaya belajar.  Tidak dapat mengukur keberhasilan seorang anak dengan membandingkannya dengan siswa lain. Tugas sekolah memberikan pendampingan agar anak dapat mengembangkan talenta dan kepribadiannya masing-masing.

Menghargai jiwa anak berarti juga menghargai setiap kekurangan dan kelebihannya. Pembentukan kepribadian anak berarti secara teratur memperbaiki kekurangan-kekurangannya, sementara di sisi yang lain terus menerus meningkatkan kelebihan-kelebihannya.

Sekolah tidak memberikan hukuman fisik atau psikologis terhadap kesalahan atau kekurangan siswa, tetapi memberikan penyadaran tentang kesalahan atau kekurangan yang ada, dan keinginan memperbaikinya.

Di Semut-Semut berlaku proses penyadaran yang dilakukan dengan penguatan dan pembiasaan terus-menerus. Disiplin yang diinternalisasi dari kesadaran anak, bukan disiplin yang tumbuh karena kuatir mendapat teguran atau hukuman. Berupaya memahami anak dari sisinya yang positif (psikologi positif).

Menghargai jiwa anak berarti juga memberikan kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri, dengan gaya berpakaiannya sendiri, yang cara yang disukainya, tanpa merendahkan atau meninggikan. Anak diterima apa adanya. Tidak ada penyeragaman dalam ekspresi pribadi anak.

Ini memberikan konsekwensi yang luas dalam program pembelajaran yang berlangsung.

  1. Semut-Semut menjadi sekolah inklusif, yang menerima anak dengan berbagai tingkat kecerdasannya termasuk berbagai tingkat hambatan belajarnya. Education for all.  Pelayanan penerimaan siswa baru first come first serve, dengan tes kesiapan belajar dan kecocokan pola asuh keluarga.
Sekolah inklusi Semut-Semut
siswa inklusi membuat pot bunga untuk kegiatan gardening

 

  1. Sikap toleransi yang tinggi terhadap perbedaan. Setiap hari bersama siswa Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), membuat siswa reguler/normal di Semut-Semut lebih menghargai teman yang kekurangan, dan membantu teman. Hampir tidak terjadi bullying, karena setiap siswa menyadari masing-masing pun memiliki kekurangan. Terbentuk sikap kemanusiaan (humanisme) yang lebih luas, dalam pemahaman keberagaman multikultural.  
  1. Best school is the best process, not the best input”. Semut-Semut meyakini bahwa tugas sekolah adalah memberhasilkan setiap anak, melalui berbagai program pembelajaran dan kegiatan penunjang. Betapa pun kondisi awal  siswa yang beragam-ragam, sekolah memproses anak melalui pembelajaran akademik, sikap perilaku, dan psikomotorik, sehingga siswa dapat mencapai pengembangan diri yang optimal. Untuk itu diperlukan program pembelajaran yang mencocoki bagi semua kebutuhan anak.
  1. “Teman-teman, teman-teman kecil” adalah sapaan yang diberikan oleh sekolah kepada para siswa agar merasa nyaman bersama kakak atau bapak/ibu guru. Guru berlaku sebagai pamong, yang merawat, menjaga dan melindungi jiwa-jiwa anak. Anak merasa dekat dengan dengan guru, seibarat kakak atau orangtua, sehingga leluasa berbicara menyampaikan perasaaan dan pikirannya.
  1. Happy Teacher –  Guru yang Gembira: by Hand, Health, Head, and Heart. Guru harus memiliki panggilan atau passion mengajar. Dia akan mengajar dengan tangan yang terbuka (by hand), dengan pikiran yang cerdas dan kreatif (by head), dan kegiatan yang aktif padat beragam (by health), serta dengan hati yang penuh semangat pencarian ilmu/pembelajaran (by heart).

Guru yang trampil mengelola berbagai modalitas belajar anak (visual, auditory, kinestetik);  memperhatikan berbagai potensi kecerdasan anak (Gardner: multiple intelligence), serta memperhatikan pula berbagai kepribadian khas anak (sangunis, melankolis, plegmatis, dan kholeris).

Uniknya, di Semut-Semut guru senantiasa bersama siswa sejak awal hingga akhir pembelajaran. Tidak ada ruang guru, sehingga guru dan siswa selalu bersama.

  1. Sekolah menyenangkan. Sekolah menjadi tempat yang menyenangkan untuk belajar. Menghindari tekanan, stressor, atau ketakutan, yang mungkin disebabkan oleh guru, tugas PR/pembelajaran, maupun lingkungan fisik sekolah. Meniadakan hukuman badan/fisik kepada siswa — seperti menulis 100 kalimat, berdiri di muka kelas, atau mempermalukan siswa.                                        Lingkungan belajar dimeriahkan dengan berbagai stimulasi baik benda, warna, suara, bentuk, sehingga siswa merasa selalu gembira bermain.
  1. Penguatan dan pembiasaan. Penanaman karakter dan nilai-nilai melalui penguatan dan pembiasaan. Baik penguatan dan pembiasaan dalam kegiatan keagamaan (sholat dhuha, hafalan surat Al-Quran), pembiasaan dalam kegiatan belajar, pembiasaan sikap sosial dalam pergaulan di sekolah, maupun adab budi pekerti lainnya, sesuai dengan school believe. Budi pekerti tidak diajarkan, tetapi sesuatu yang dilaksanakan dalam keseharian.
  1. Fitrah anak, senang-senangnya bermain. Maka, belajar sambil bermain, adalah sesuatu yang menyenangkan. Kegembiraan bermain dan kesenangan bersekolah, membuka pintu-pintu belajar. Karena itu, sekolah memberi ruang keleluasaan anak bergerak dan bermain, baik pada saat pagi hari, istirahat singkat (free play), maupun selama belajar.

Halaman yang luas dan aman bagi anak untuk bergerak, dengan berbagai permainan tradisional, rumah kayu/mini outbound, serta hiasan sekolah yang penuh dengan warna-warni keceriaan. Suara musik yang mengalun lembut sejak kedatangan hingga pulang, mengisi kebutuhan otak kanan anak dengan berbagai imajinasi.

  1. Kelas yang menyenangkan. Esensi ‘bermain’ juga terasakan dalam pembelajaran di kelas. Dengan pendekatan active learning dan collaborative learning, semua materi pembelajaran jadi menyenangkan. (Apersepsi, role play, performance, dsb).  Display karya siswa atau pajangan kelas membuat siswa merasa dihargai.

Seluruh area sekolah pun dapat menjadi tempat pembelajaran (moving class). Perpindahan gerak anak (selama di kelas, atau dari kelas ke luar kelas) memberikan kenyamanan dan menghilangkan kejenuhan belajar. Guru dengan cermat memperhatikan kebutuhan ini, dan mengaturnya sesuai waktu yang diperlukan, serta dalam cara-cara pembelajaran yang berbeda-beda.

  1. Fleksibilitas dalam berbusana. Setiap Selasa siswa bebas berbusana, dapat menjadi dirinya sendiri. Memang ada jadwal berseragam pada  Senin (Putih Merah), Rabu (batik), Kamis (baju kargo),  dan Jumat (busana muslim bebas), tapi seragam bukanlah menjadi sarana penyeragaman karakter siswa. Jika siswa salah kostum, tidak mendapat sanksi apa-apa.
  1. Tanpa PR. Sekolah tidak memberikan Pekerjaan Rumah yang mengulang konten sekolah. Tapi mengubahnya menjadi TR (Tantangan Rumah) berupa tugas naratif atau projek kolaboratif  dengan ayahbunda, dan PH (Pekerjaan Harian).

Untuk Tantangan Rumah, Ayahbunda dapat turut serta dan menjadi faktor terpenting dalam proses tumbuh kembang anak. Tanpa pekerjaan rumah, anak memiliki cukup waktu untuk beristirahat, bermain di sekeliling rumah, atau bermain dengan anggota keluarga. Siswa masih berkesempatan mengembangkan diri dalam klub ekstakuler yang diminati.  Tanpa PR, maka Ayahbunda memiliki kesempatan untuk berinteraksi mengembangkan potensi anak.

  1. Buku Komunikasi. Jantung pengamatan perkembangan siswa pada Buku Komunikasi, yang diisi setiap hari oleh guru dan dijawab/respon oleh orangtua. Disarankan orangtua selalu respon terhadap pencapaian siswa yang dilaporkan guru, ataupun sebaliknya. Buku Komunikasi menjadi jembatan komunikasi antara sekolah dan ayahbunda dalam mencermati pertumbuhan anak.  
  1. Kerjasama dengan orangtua. Kegiatan Parenting yang cukup sering dilakukan, menjadi sarana menyatukan visi sekolah dengan visi keluarga dalam pendidikan. Makin dekat visi antara sekolah dan keluarga, diharapkan proses tumbuh kembang anak lebih optimal. Dalam berbagai kesempatan, Parenting juga membekali Ayahbunda  melakukan pengasuhan ananda di rumah, tak melulu soal akademik atau terkait  secara langsung dengan proses belajar di sekolah.
  1. Tak ada ranking. Sekolah tidak merangking nilai siswa, perkelas atau persekolah. Siswa berkompetisi dengan dirinya sendiri, bukan berkompetisi dengan teman se kelas atau sebayanya.  Karena itu, sekolah mengapresiasi Siswa betapapun prestasi yang diperolehnya baik individual maupun kelompok. Siswa mendapat penghargaan/apresiasi atas tiap kompetensi kecerdasan yang ditunjukkannya, berupa piagam prestasi.
  1. Tidak ada anak yang bodoh (secara akademik). Setiap anak adalah unik dan istimewa. Setiap anak akan berkembang sesuai kemampuan dan kecerdasan utamanya. Tugas sekolah memberikan dorongan agar potensinya berkembang secara optimal. Sudut pandang ini selalu harus dimiliki oleh para guru/pendamping, sehingga tidak ada keluhan atau kejenuhan pada guru saat menghadapi siswa yang lambat, sulit, atau memiliki kendala belajar.
  1. Evaluasi naratif. Evaluasi belajar diberikan berupa Progress Report dan Raport. Keduanya bersifat naratif, dengan uraian aspek akademik, psikomotorik, dan sikap (afektif).

Penilaian diberikan sesaat sebelum waktu konsultasi. Sehingga orangtua mendapat kesempatan yang cukup memadai untuk mendiskusikan beberapa hal  tentang kondisi ananda serta boleh mendapatkan penjelasan terhadap pencapaiannya. Guru kelas harus dapat menjelaskan berbagai kondisi anak, sehingga akan membantu dalam peningkatan kualitas belajar ke depan.

  1. Talent Day untuk merespon potensi anak. Beragam potensi anak ditumbuhkan melalui berbagai kegiatan dalam jam belajar. Ada hari khusus (di hari Jumat) berlangsung program  Talent Day, di mana anak dapat memilih kelompok/kegiatan yang diminatinya: Cookery, Art, Gardening, Sahabat Alam, Bengkel Habibie, Musik, Komputer, dsb.

Penamaan Habibie sebagai penghormatan terhadap bapak presiden ke-3 Baharuddin Jusuf Habibie, bapak Teknologi Dirgantara Indonesia yang ahli membuat pesawat terbang, beliau mendirikan pabrik pesawat Nurtanio. Di Bengkel Habibie, kegiatan siswa merakit benda-benda imajinernya (hias, dll) dari bahan bekas (kotak, kardus,  botol kemasan, kayu bekas)  dibantu guru untuk menggunakan alat (lem tembak listrik, gunting, kawat, dan alat tukang sederhana). Merangsang daya cipta, dan melatih motorik halus.

Program Sahabat Alam, dibantu oleh kakak mahasiswa biologi. Juga ada kakak Biodiversity Warrior (KEHATI)  yang mengajak siswa mencintai lingkungan dan keanekaragaman hayati.

  1. Multi event. Dengan berbagai type kebutuhan siswa, maka sekolah perlu membuat beragam kegiatan, sehingga potensi anak dapat tumbuh dan diapresiasi. Seperti penampilan seni per-kelas (Assembly), pertunjukan seni akhir tahun pelajaran (Performa Anak Negeri), maupun kegiatan rutin keseharian di sekolah seperti  Pameran Karya, Market Day, Science Day, Book Character, dll. Kegiatan outdoor seperti factory visit, outing, eksplorasi, hiking, camping, jelajah alam, karya bakti, karya sosial, dll.
SD Semut-Semut
mendongeng sebagai salah satu cara penanaman ahlak

 

19, Budaya Lingkungan. Sekolah yang alami seperti Semut-Semut the Natural School, memberikan kesempatan bagi siswa untuk memahami manfaat lingkungan bagi manusia, dan keinginan untuk merawat alam sebagai warisan masa depan.

Sekolah membiasakan siswa untuk membuang sampah pada tempatnya, sesuai dengan jenisnya (kertas, plastik, organik), hemat air, kantin sehat, makanan sehat (bebas MSG, pengawet dan pewarna makanan), menyiram tanaman, merawat hewan di mini zoo sekolah.

 

B. PERJUANGAN KEBUDAYAAN 

 Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan Indonesia berpesan, bahwa “Pendidikan itu sejatinya adalah Perjuangan Kebudayaan“.

Dalam bingkai visi yang lebih luas, tujuan pendidikan nasional Indonesia yang ingin dicapai melalui pembelajaran di sekolah, adalah membentuk masyarakat modern Indonesia yang religius, berkarakter mulia, dan tentu saja cerdas trampil agar mampu berkontribusi dan bersaing dalam era globalisasi.

Hal ini memberikan beberapa konsekwensi penting bagi Semut-Semut:

  1. Multikultural

Anugerah Indonesia yang beragam suku, agama dengan ras, yang dipersatukan dalam negera kesatuan RI berdasarkan Pancasila, Indonesia memiliki kekayaan sosial yang luar biasa.

Setiap tahun, nama-nama kelas berganti-ganti tetapi tetap menggunakan atribut nasional, seperti nama para pahlawan, jenis tanaman langka, pulau-pulau terpencil, dan sebagainya.

Siswa dibelajarkan memahami kekayaan nasional ini, dalam pendekatan pembelajaran multikultural. Misal, dalam kelas intrakurikuler menari, diajarkan berbagai seni tari tradisi. Dalam musik, diperkenalkan musik arumba, angklung, kasidah, dan trash music.

SD Semut-Semut the Natural School
berlatih perkusi untuk persiapan pertunjukan kelas, dengan menggunakan media ember cat bekas (trash music)

 

Sekolah juga mengundang tamu dari berbagai kompetensi sebagai guest teacher, yang menambah pemahaman siswa tentang berbagai kebudayaan dan negeri.

Siswa pun mengunjungi berbagai lokasi seni budaya dan sejarah di ibukota, untuk lebih membuka wawasan dan pengetahuan.

  1. Pendidikan Abad 21

Semut-Semut menerapkan pembelajaran terintegrasi (tematik), dengan cara pembelajaran aktif (active learning), serta berbasiskan pendekatan Pembelajaran Abad 21.

Apakah itu pembelajaran model Abad 21?

Siswa menjadi pusat belajar (student center), dan guru menjadi pamong yang memfasilitasi pembelajaran. Suasana pembelajaran berkelompok dan bekerjasama (cooperative dan collaborative), membuat proses belajar yang komunikatif, kreatif, inovatif, dan mencapai taraf berfikir kritis (high order thinking) untuk mencapai pemecahan masalah (problem solving). Inilah ciri dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada ketrampilan yang diperlukan pada era abad 21 kini.

Siswa pun tetap mendapat pembelajaran komputer dan bahasa Inggris, sehingga kelak trampil berteknologi.

SD Semut-Semut
belajar di luar ruangan, eksplorasi tentang tanaman dan satwa di lingkungan sekolah

 

Pendekatan pendidikan Abad 21 menekannya pentingnya kemampuan komunikasi dan literasi. Di sekolah Semut-Semut, siswa didorong untuk lebih berani menyampaikan pendapat dan menampilkan dirinya.

Misalnya, saat kerja kelompok ber 4 semeja. Siswa terdorong  lebih terbuka untuk berbicara dan berdiskusi. Susunan anggota kelompok yang dibuat berganti-ganti, agar siswa terbiasa berkerjasama dengan siapa pun. Contoh lain, presentasi di muka kelas secara kelompok atau sendiri. Diharapkan, terbentuk sikap percaya diri berani mengungkapkan pendapat.

Kesempatan mengundang anak bertanya, tampil ke depan, mempresentasikan karya, atau tampil dalam pentas kelas, pameran hingga pertandingan kelas, membuat anak terbiasa berkomunikasi dan tampil. Tak perlu malu, karena tidak akan dipersalahan atau diejek. Guru pun lebih banyak mendorong anak berefleksi, menulis cerita, uraian, atas tantangan yang diberikan. Baik berupa tulisan atau pun gambar.

  1. Peringatan Hari-Hari Penting nasional dan internasional. Salah satu cara mendekatkan siswa pada sikap nasionalisme dan pengertian globalisasi sekaligus, adalah melalui perayaan berbagai hari-hari penting nasional maupun internasional. Hari Susu, Hari Pangan, Hari Maritim, Hari Ayah, Hari Lingkungan Hidup, Hari Satwa dan Puspa, Hari Menari Sedunia, HUT ABRI, sebagai contoh hari-hari yang dimaknai dengan beragam kegiatan di sekolah.
SD Semut-Semut
Hari Maritim 2019, diperingati dengan berbagai aktifitas memahami kemaritiman Indonesia

Siswa akan mengenal berbagai isu-isu lokal, nasional, dan internasional, sebagai syarat kelak dapat beradaptasi dan bergaul sebagai warga bangsa dalam globalisasi.  Bila dimungkinkan, siswa dapat juga mengunjungi berbagai kegiatan perayaan hari-hari penting tersebut di luar sekolah.

   

4.  SIKAP KEINDONESIAAN 

Jati diri bangsa Indonesia, yang religius, ramah, kaya tradisi seni budaya, dan sikap suka menolong bergotong royong, sebagaimana menjadi landasan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, menjadi acuan bagi penyelenggaraan pendidikan di sekolah Semut-Semut the Natural School.

Karena itu, di pagi hari selalu diperdengarkan musik tradisi, lagu anak-anak, sebagai upaya mendekatkan anak pada khasanah keIndonesiaan.  Juga kegiatan permainan tradisional, kelas musik (dengan alat angklung dan arumba) serta berbagai olah seni tradisi, menjadi penguat keIndonesiaan dalam diri anak.

Pada waktu khusus, seperti hari Jum’at, diperdengarkan lagu dan ayat suci, serta ibadah dhuha berjamaah, diisi dengan ceramah dan games, sehingga suasana keIslaman sangat terasa.

Pendidikan yang bisa menumbuhkan kreatifitas, rasa senang, bahagia belajar dan bahagia mengajar, hanya dapat tumbuh dalam suasana demokratis dan egaliter.

Suasana GOTONG ROYONG DAN KEKELUARGAAN  dalam bekerja dan berkomunitas, baik sesama siswa, sesama guru, dan sesama orangtua dan para guru serta pengelola sekolah, menjadi suatu karunia bagi upaya melangsungkan proses belajar-mengajar yang menyenangkan.

Semoga pengabdian Semut-Semut memberi makna dalam pendidikan nasional Indonesia.

 

SHORT LIST SEMUT-SEMUT  

1.KURIKULUM

  • Menanamkan Pemahaman Pengetahuan dan Tata Kehidupan Berdasar nilai-nilai keTuhanan dan kemanusiaan, serta mengembangkan Potensi Kecerdasan melalui  Proses Pendidikan Natural, untuk membangun kebanggaan jatidiri Bangsa di tengah Interkasi Global
  • Kurikulum Nasional dan Dinamika Perubahannya
  • Kurikulum Natural dan Perkembangan Kompetensi Abad 21
  • PPK (Penguatan Pendidikan Karakter)  

 

2.MAKNA MENGAJAR BAGI KAMI

  • Mengajar dengan Hati (Teaching by heart)
  • Menginspirasi
  • Menjadikan Potensi menjadi Kompetensi
  • Menguatkan Kecintaan pada Nusa Bangsa
  • Memberi Penyadaran Siapa Tuhanmu, Apa Keunggulanku, dimana Aku berpijak, Untuk Apa aku diciptakan, Bagaimana Masa Depanku

 

3.THE GREAT TEACHER 

  • Head – Hand – Health – Heart

 

4.EDUCATION FOR ALL

Dengan unit Learning Support Departement atau  LSD:

  • Shadower
  • Programmer
  • Conselor / Psikolog
  • IEP (Individualize Education Program)

(IM)