CEMBURU

Created by: Rizka Nadialina

“Ibuuuu…” Marsya memelukku dengan tangannya yang sekarang sudah bisa menggapai bagian pundakku.

“Hei, Marsyaaa!” Ucapku lagi dengan mata tak kalah berbinar. Terang saja, muridku yang satu ini sudah aku anggap seperti adikku sendiri. Aku membalikkan badan. Tanpa perlu melihat wajah orang yang sudah memelukku, aku sudah hafal suara Marsya. Apalagi dari tangannya yang memelukku dari belakang, tampak  ia memegangi minuman kesukaan yang biasa dibeli di warung depan sekolah.

“Betul ‘kan, Marsya,” kataku sekali lagi sambil bercanda dengan mengambil minuman dari genggaman tangannya.  Ia pun membalas candaanku dengan berpura-pura menahan minuman kalengnya agar tidak bisa aku ambil.

“Bagaimana kabar mamamu?” Tanyaku pada Marsya sambil mengajaknya duduk di pinggir lapangan sekolah.

“Mama lagi ke Manado, Bu.” Ucap Marsya. Tak lama ia kembali menegukkan air dari minuman kalengnya. “Pulangnya mungkin hari Sabtu ini.” Kami pun berbincang panjang, sesekali disela oleh derai tawa karena lelucon sederhana yang kami berdua lontarkan.

Iya, begitulah aku dan Marsya. Meski aku tidak lagi menjadi wali kelas Marsya, tetapi saat kami bertemu, kami selalu merasa kangen.  Dari kejauhan ia sudah memanggil namaku lalu menyalami sambil mencium tanganku.  Saling menanyakan kabar dan mengomentari hal-hal sederhana, namun tampak penting bagi kami berdua. Mungkin hal ini yang tak kudapatkan dari murid-murid lain. Ketulusannya untuk ingin berbincang denganku meski dalam waktu yang sebentar, di sela-sela kesibukan kami masing-masing, terasa sangat berharga. Sibuk? Marsya kini sudah duduk di kelas 6. Tahun terakhirnya di sekolah ini.  Semakin banyak ujian yang harus ia tempuh sebagai syarat kelulusan menuju jenjang berikutnya. Sedangkan aku, aku pun harus mengurusi murid-muridku di kelas 5 yang juga penuh dengan cerita.  Aku dan Marsya pun tidak setiap hari sempat bertemu, meski kami berada di sekolah yang sama. Dengan kesibukan masing-masing, waktu terasa begitu cepat berlalu. Hingga waktu di sekolah terasa habis begitu saja. Tidak jarang aku melewati hari di sekolah tanpa bertemu dengan Marsya.

‘Hm...Marsya sedang apa ya, sekarang?’ Tiba-tiba pikiran itu melintas di kepalaku.

‘Kok tiba-tiba aku teringat pada Marsya?’ Aku berucap di dalam hati. Aku lirik jam di dinding kelasku. Jarum pendek menunjukkan angka lima dan jarum panjang menunjukkan angka dua.

‘Wah, sudah sore, sedangkan aku masih di sekolah,’ kembali aku berkata dalam hati sambil mengambil ponselku. Aku mengetik beberapa kata dan mengirim pesan singkat kepada Marsya. Saat aku teringat pada muridku yang satu ini setelah pulang sekolah, tanpa ragu aku mengirimkan pesan singkat padanya. Tidak lama Marsya pun membalas pesanku.

‘Oh, dia sedang sendiri di rumah. Hanya ditemani dengan dua hewan peliharaannya yang setia’, pikirku sambil merapikan meja dan bersiap-siap pulang. Mama dan papa Marsya sedang berada di luar rumah karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskan Marsya menunggu kedatangan orangtuanya  sendiri di rumah. Setiap hari, Marsya dijemput oleh tukang ojek langganannya. Meski sering Marsya membunuh waktu agar tidak terlalu lama sendiri di rumah dengan cara memperlambat waktu kepulangan. Marsya menghabiskan waktu selama 30 menit untuk bermain di area sekolah setelah jam sekolah usai. Memang tidak hanya Marsya, banyak murid lainnya yang  betah di sekolah dan merasa enggan untuk pulang. 

Marsya sudah terbiasa dengan pola kemandirian yang terbentuk karena kesendirian di rumah. Ia harus tiba di rumahnya dengan membuka kunci pintu sendiri, mengambil makanan dan minuman sendiri, dan membersihkan rumah dengan sekedar menyapu atau mengepelnya. Menghabiskan waktu di rumah dengan mengurusi hewan-hewan peliharaannya, mengajak hewan peliharannya berjalan-jalan keliling komplek, ataupun sekedar bermain dengan teman-teman sebayanya untuk mengusir rasa kesendirian. Azan magrib yang berkumandang pun menjadi tanda untuk Marsya agar segera pulang Kunci rumah selalu ia jaga dan pastikan agar selalu aman berada di kantong celananya.

‘Alhamdulillah, papanya sudah tiba lebih dulu di rumah’, aku bersyukur dalam hati setelah membaca pesan singkat dari Marsya yang mengatakan bahwa papanya sudah pulang. Obrolan di pesan singkat itu pun aku sudahi. Tidak terasa aku sudah sampai di rumah. Aku dan Marsya saling berbalas pesan dan membahas berbagai hal. Sepanjang perjalananku dari sekolah ke rumah, tanganku tidak terlepas memegang ponsel dan menunggu balasan dari Marsya lalu segera mengirimi ia pesan lagi. Tidak jarang pula Marsya memanfaatkan hal ini sebagai salah satu cara agar tidak merasa kesepian di rumahnya.

***

                “Ibu…bisakah kami bicara sebentar?” pinta murid-murid kelas limaku. Dian, Ela, dan Fuji mendekati meja guru yang terletak di samping pintu kelas. Ketiga anak itu pun menarikku untuk segera berbicara. Tampaknya ada hal serius. Sebagai guru bagi mereka di kelas 5 ini, aku terbiasa dengan cerita-cerita yang dilontarkan oleh murid-muridku. Ada cerita bahagia tentang pengalaman mereka menghabiskan akhir pekan bersama keluarga, menacing ikan, jalan-jalan ke gunung, bahkan ke luar negeri. Namun, murid-muridku pun tidak segan bercerita tentang perasaan sedihnya ketika kalah bertanding futsal dan hanya memperoleh juara kedua, cerita tentang kekecewaanya karena telah berselisih dengan teman, hingga ungkapan-ungkapan yang tidak terduga bagiku yang keluar dari mulut mereka, seperti ‘aku dimarahi oleh ibuku’.  Di akhir cerita mereka, selalu aku tekankan, “Orangtua selalu sayang pada anak-anaknya, bukannya kamu dimarahi, nak..tetapi diingatkan. Orangtuamu pasti ingin kamu menjadi anak yang jauh lebih baik lagi. Percaya pada ibu,” aku memberikan penguatan jika ada yang bercerita sudah ‘dimarahi’ orangtuanya.

                Aku pun bergegas bangkit dari kursi dan meninggalkan mejaku untuk segera mencari tempat yang nyaman untuk berbincang dengan ketiga muridku. Tampak sangat serius, tapi wajah mereka sedikit ragu untuk bercerita. Bahkan, ada sedikit ketakutan di wajah mereka. “Ibu jangan marah,ya?” Ucap Dian memulai pembicaraan. Marah kenapa,ya? Pikirku dalam hati. Aku pun menganggukkan kepalaku sebagai jawaban atas pertanyaan mereka.

                “Bu, kemarin sepulang sekolah, setelah mengantarkan murid-murid ke gerbang sekolah, Ibu menyapa Ela yang belum pulang,” Dian melanjutkan perkataannya. “Ibu sedang duduk di kursi yang ada di koridor lantai bawah. Ingat kan, bu?” Tanya Dian.

                “Iya, Ibu ingat.” Jawabku singkat karena tidak sabar ingin mendengar kelanjutan cerita Dian.

“Nah, setelah Ibu menyapa Ela, Ela pun pergi ke gerbang sekolah untuk mengecek kembali sudah dijemput atau belum. Bukan begitu, La?” Dian memastikan urutan peristiwa yang terjadi kemarin.

“Iya, betul. Lalu saya sempat melihat kembali ke arah Ibu. Ibu sedang menyapa Kak Marsya. Tapi Ibu menyapa Kak Marysa dengan lebih ‘heboh’.” Jelas Ela.

                “Heboh?” Aku bertanya lebih jelas

                “Iya, jadi begini, Bu,” Dian kembali membantu menjelaskan, “Saat Ibu menyapa Ela, Ibu menyapa dengan ekspresi yang sangat biasa. Tetapi saat bertemu Kak Marsya, Ibu terlihat sangat senang. Ela merasa jealous, Bu. Maksudnya cemburu gitu, Bu. Kami juga terkadang merasa Ibu sangat berbeda dengan Kak Marsya. Ibu terlihat dekat dengan Kak Marsya.” Dian mengungkapakn perasaannya. Sedangkan Ela dan Fuji mengisyaratkan setuju dengan menganggukkan kepala mereka beberapa kali.

                “Oohh..Ya ampun, Dian, Ela, dan Fuji. Jadi ini yang  membuat kalian merasa gelisah beberapa hari ini. Pantas saja, kalian juga tampak berbeda beberapa hari ini, kalian lebih jarang bercerita pada Ibu.  Biasanya, gerak-gerik kalian yang seperti itu terlihat sedang merencanakan sesuatu yang baru bisa Ibu ketahui setelah rencana kalian matang, Seperti waktu kalian menyiapkan rencana untuk mengadakan jalan-jalan bersama Ibu dan kalian bulan lalu . Ternyata kalian meyimpan perasaan cemburu,” ucapku sambil tersenyum. “Begini, Kak Marsya dan Ibu sudah kenal cukup lama. Sejak Ibu menjadi wali kelasnya sewaktu Kak Marsya kelas 4 dan 5. Sekarang Kak Marsya kan sudah kelas 6, jadi sudah hampir 3 tahun ini Ibu kenal dengan Kak Marsya. Sama seperti kalian, Kak Marsya sering bercerita dengan Ibu. Curhat tentang keluarga, teman, hobi, dan perasaan yang dialaminya. Semuanya itu berlangsung sudah cukup lama. Tetapi, sekarang, Kak Marsya sudah kelas 6. Ibu pun menjadi wali kelas kalian. Pastinya waktu Ibu sering dihabiskan bersama kalian. Ibu hanya sesekali bertemu dengan Kak Marsya. Tidak setiap hari, kan? Meski Ibu dan Kak Marsya sangat dekat, tetapi Ibu tidak pernah dengan sengaja meninggalkan kalian sewaktu sedang bersama kalian, kan? Bahkan Ibu bertemu dengan Kak Marsya hanya sepulang sekolah, itu pun tidak setiap hari. Sedangkan kalian? Ibu bersama kalian sepanjang hari di sekolah.  Jadi, kalian tidak perlu cemburu, ya… Ibu tetap sangat sayang pada kalian. Kalian juga memiliki tempat yang sangat spesial di hati ibu.” Jelasku sambil mnerangkul ketiga muridku yang sangat perhatian itu.

                “Alhamdulillah,” Kata Ela. “Kami semua lega, kami pikir, Ibu akan memilih untuk terus dekat dengan Kak Marsya saja. Ibu janji, ya tidak akan meninggalkan kami?” tanya Ela.

                “Iya, murid-muridku yang cantik-cantik seperti gurunya.” Kataku sambil meletakkan kedua telunjukku di pipi.

                “Aaaahh…Ibuuuu.” Jawab mereka serentak.

 

JoomShaper