Go, Dinda!

Created by: Anggita Kartika Tama

Impianmu adalah milikmu. Berhasil atau tidaknya adalah pula tanggung jawabmu. Proses membawamu pada kedewasaan dalam memilih dan melangkah, lagi menerima.

Drap..drap..drap..

Langkah kakiku yang berjalan tenang terhenti. Bukan karena ada hal yang menghalangi. Tapi karena aku ingin. Aku Berusaha melihat ke arah berlainan dari pandanganku. Menoleh ke belakang, dan dengan lembut menatap wajah bapak, ibu, kedua adikku Gio dan Ado. Meyakinkan diri bahwa mereka akan baik-baik saja. Bahwa aku pun akan baik-baik saja. Menguatkan hati, melangkah kembali menuju arah dimana aku harus melangkah.

***

 

Aku tinggal bersama bapak, ibu, dan dua adik laki-laki yang sering aku panggil Gio, dan Ado. Kami tinggal di sebuah rumah yang sederhana, cukup untuk menjadi tempat istirahat, menjadi tempat pulang kami kemanapun kami pergi.

“Mbak Dinda... itu Mbak Liya nyamper!” teriak Gio dari lantai bawah rumahku.

Aku yang masih berada di kamarku di lantai dua, segera bergegas turun tangga.

“Bu, berangkat dulu ya.. Liya udah nyamper”

“ Ini rotinya dibawa buat sarapan, Din”

“Iya bu, makasih ibuuu” ujarku lalu cium tangan dengan ibu dan pergi berangkat sekolah bersama teman dekatku, Liya.

Ya, Liya selalu setia menghampiriku untuk berangkat bersama ke sekolah. Ia dengan sepeda motor maticnya siap memboncengi aku ketika berangkat maupun pulang sekolah. Menjemput dan mengantarku pulang kembali ke rumah. Liya, teman baik yang cantik dan juga ramah. Saat perjalanan yang kami lalui sedang sepi, Liya membawa motor dengan kecepatan rendah. Disaat itu pula lah kami biasanya bercengkrama.

 “ Eh, Din.. hari ini kan, pengumuman SNMPTN” kata Liya

 “ Iya, kemarin dapat info dari Pak Kris.. katanya pengumuman ditempel di mading pas jam pulang sekolah, Li” kataku sambil berusaha menghabiskan roti selai yang ku bawa dari rumah. Pak Kris adalah wakil kepala sekolah kami.

“Semoga kita masuk ya.. di PTN yang kita mau” jawab Liya penuh harap.

***    

Aku berkeinginan kuliah di perguruan tinggi negeri dan mengambil jurusan sastra jerman. Pilihanku mantap pada salah satu PTN terbaik di Indonesia, yaitu Universitas Indonesia. Sejak kecil, aku seringkali mengkhayal untuk bisa pergi ke luar negeri dan bisa berbahasa asing. Apalagi, di sekolahku sekarang ada mata pelajaran Bahasa Jerman, sebagai muatan lokal bahasa asing selain Bahasa Inggris. Sehingga menguatkan impianku untuk suatu ketika bisa bekerja di Jerman menjadi duta besar dari Indonesia.

Kriiing...kriing... bel tanda jam belajar selesai memanggilku untuk bergegas menuju koridor.

Saat itu koridor kelas dipenuhi oleh siswa yang ingin melihat pengumuman hasil ujian SNMPTN yang telah terpampang di majalah dinding sekolah. Aku bersabar untuk antre dengan siswa lain hingga bisa melihat dengan jarak lebih dekat.

Aku sambil berdoa dalam hati, berharap ada namaku tertera di kertas yang terpampang di mading. Karena, ini adalah harapan terakhir untuk aku bisa mendapatkan kesempatan masuk perguruan tinggi negeri setelah aku gagal dalam ujian mandiri UI.  Sambil terus berusaha mencari, aku gunakan telunjukku mencari nama pada lembaran kertas pengumuman. Hatiku mulai cemas dan kacau. Hampir sampai di baris terakhir belum ku temukan nama dan nomor ujianku. Sampai akhirnya aku menyadari bahwa memang nyatanya, aku belum beruntung mendapat kesempatan untuk diterima menjadi calon mahasiswa di PTN yang aku inginkan.

***

Di ruang tengah, seperti biasa Bapak, Ibu, Gio, Ado, dan aku selalu berkumpul. Biasanya kami menonton siaran televisi bersama, atau hanya sekedar bercengkrama, bercanda dan diskusi. Kali ini, suasana sedikit sunyi dan entah mengapa aku merasa semua memperhatikan keberadaanku. Wajahku tak dapat bersembunyi dari rasa sedih dan kecewa karena pengumuman tadi siang di sekolah. Ibu yang menangkap ekspresiku langsung bertanya

“Hari ini pengumuman SNMPTN ya mbak?”

“Iya bu”

“Gimana hasilnya?”

Aku diam, hanya bisa menunduk dan murung.

“Kalau ditanya, dijawab yang benar” kata Bapak sambil memegang remote untuk menurunkan volume suara televisi.

“iya... hasilnya.. belum diterima” pelan-pelan ku beranikan bicara dengan nada sedikit tertahan.

Gio dan Ado beranjak dari tempat duduknya dan berlalu meninggalkan ruangan. Sementara aku, masih duduk terpaku dengan pikiran kalut menghantui. Entah mengapa, bagiku tidak dapat diterima di perguruan tinggi negeri adalah bencana besar bagiku. Hal ini dikarenakan oleh latar belakangku yang berasal dari keluarga sederhana, bisa dikatakan berdasarkan strata ekonomi kami ini adalah kalangan menengah. Meskipun begitu, aku sudah bertekad kepada impianku. Menjadi seorang diplomat kedutaan besar Indonesia di Jerman. Apalagi, aku dengar kabar bahwa jurusan sastra jerman di UI sangat berpotensi. Untuk mahasiswa yang kurang mumpuni dalam perekonomian keluarga pun bisa mengajukan beasiswa. Tentunya aku sangat ingin bisa melanjutkan studi disana.

Hanya tinggal aku, bapak, dan ibu yang berada di ruang tengah.

“Ya sudah, kalau gitu mau gimana? Mau marah? Sedih boleh.. tapi ini namanya takdir, mbak.. gak bisa kamu tolak” lanjut bapak menasehati.

“Sekarang, mau kamu gimana? Paling tidak, kalau kamu ingin tetap kekeuh mau ambil sastra jerman.. kamu daftar di perguruan swasta yang cukup memfasilitasi itu. Dan pasti biayanya gak murah. Bapak, untuk sekarang ada uang untuk biaya kuliah kamu di perguruan swasta. Tapi belum tahu ke depannya apakah ada atau engga.”

Hatiku teriris mendengar ucapan bapak,seolah aku akan menjadi beban besar untuk keluargaku. Belum lagi adik-adikku yang masih sekolah, juga masih membutuhkan uang dari bapak dan ibu.  Sempat terpikirkan olehku, apakah aku bekerja terlebih dahulu untuk mengumpulkan uang lalu kuliah?

“Pak, kalau Dinda tahun ini gak kuliah dulu gimana?”

“Lalu kamu mau apa?”

“Dinda kerja dulu aja, nanti uangnya ditabung buat kuliah” ujarku meyakinkan

“Bapak ga setuju. Kamu lebih baik langsung kuliah! Nanti kalau udah kerja malah asik cari uang dan lupa tujuan utama kuliahnya” dengan nada sedikit tinggi bapak menentang ideku untuk bekerja lebih dulu.

Hatiku kalut, ku tatap wajah ibuku penuh ketenangan, namun aku tahu ibu pasti sedang memikirkan masa depan anak-anaknya. Aku harus bagaimana? Apakah harus aku korbankan jurusan sastra jerman yang aku damba-dambakan? Aku harus memilih jurusan lain, yang sekiranya terfasilitasi oleh perguruan swasta yang biayanya murah? Lalu aku harus ambil bidang apa? Pertanyaan demi pertanyaan menggeluti pikiranku.

“Bapak beri kamu waktu.. kamu mau ambil jurusan keguruan atau tetap bahasa jerman? Karena bapak dapat kabar dari teman kalau ada perguruan swasta yang biaya per semesternya murah.. tapi disana tidak ada jurusan sastra jerman, mba” kata bapak dengan tenang.

“Dimana aja kuliahnya mba, sama aja.. yang penting kamunya mau berusaha dan kerja keras” ujar ibu dengan nada lembutnya.

Sejak malam itu, aku banyak merenung di dalam kamarku. Aku terus memikirkan apakah aku harus merelakan cita-citaku? Menggugurkan semangat untuk kuliah sastra jerman? Ini bukan lagi masalah pilihan sekolah, lebih dari itu hal ini adalah salah satu penentu nasib masa depanku. Aku ingin, mengubah hidupku agar tidak lagi berstatus ekonomi menengah. Aku ingin bisa menghasilkan uang yang banyak agar kelak bisa memberikan kenyamanan dan hidup enak dengan bapak Ibu Gio dan Ado.

Kini, pilihan ada di tanganku. Apakah aku harus mengikuti saran bapak, atau aku tetap pada pilihan sastra jerman?

“Mbak.. nih.. jangan sampe lupa makan” Gio menghampiriku yang sedang melamun di atas kasur kamarku dengan sebungkus cokelat di tangan kanannya.

Aku tatap wajahnya yang berekspresi datar, namun matanya seolah berkata “jangan sampai stress mba”. Aku tersenyum simpul, aku peluk adikku yang usianya beda 2 tahun dariku ini.

“aaaah.. makasiiiih adikkuuuuu” kataku sambil memeluk erat badannya yang sedang duduk disampingku.

“ah apaan sih iih... lebay nih!” Gio berusaha melepaskan tanganku yang melingkar di tubuhnya. Meskipun begitu, aku cukup merasa terhibur dengannya.

“Yaudah.. itu jangan lupa dimakan! Gio mau ke bawah, ngerjain tugas sekolah.” kata Gio lalu pergi meninggalkanku menuju kamarnya di lantai bawah.

Aku menatap cokelat yang diberikan Gio, bergumam dalam hati “aah, beruntungnya memiliki adik yang perhatian dan bisa memahami situasiku” bukan karena coklatnya, melainkan rasa yang diberikan adalah dari hati nurani seorang adik kepada kakaknya. Thanks, Gio.

***

Seandainya.. aku dapat diterima SNMPTN, mungkin tidak ada yang mengganggu pikiranku saat ini. Mungkin, aku bisa melalui hariku seperti biasa, bercanda, tertawa, makan, dan belajar dengan tenang dan nyaman. Tapi, takdir berkata lain.

“Dinda, lihat nih gue bawa apa!”  Liya datang mengejutkanku yang sedang melamun di tempat duduk sudut kelasku.

“apa tuh, Li?”

“Brosur beasiswa kuliah di luar negeri nih Din!” sambungnya bersemangat

“Coba coba, mana lihat!” mataku langsung berbinar, dan ku ambil brosur yang ada di tangan Liya.

Aku selami satu per satu persyaratan dan langkah untuk bisa mendaftarkan diri mengikuti program beasiswa yang menggiurkan ini.

“Ini.. dapet darimana Li?” tanyaku penasaran

“Tanteku kemarin main ke rumah, tante kan kerja di lembaga beasiswa ini. Nah, beliau nawarin aku untuk ikut daftar beasiswa di tempat ini”

“kamu gak mau coba, Li?”

“kamu kan tahu, Din.. aku udah bertekad kuliah di UGM, ambil jurusan kedokteran. Itu impian aku.. dan aku udah diterima disana. Jadi kayaknya ga mungkin deh, aku ikut ini.”

Ya, aku tahu.. Liya memang sudah lama cerita kalau ingin sekali ambil jurusan kedokteran. Dan beruntungnya dia, nasib baik berpihak padanya. Liya sudah berhasil diterima di UGM jurusan kedokteran.

“Ini brosurnya boleh aku pinjam dulu gak, Li?”

“yaampuuuun Dindaaaa, gak boleh! Ya boleh laah..ini brosurnya buat kamu aja Din” Liya berkata sambil mencubit kedua pipiku.

“hehe, makasih ya Liiiii” kataku dengan senyum lebar.

Hatiku lega, seolah ada secerca harapan untuk memulai kembali perjuanganku mencapai impianku. Terimakasih, Liya..

***

Aku berjalan menuju persimpangan jalan raya dekat perumahanku. Menuju warnet untuk mencoba membuka situs beasiswa sekolah asing yang Liya berikan padaku. Ya, saat itu aku belum memiliki komputer atau pun laptop pribadi. Sehingga, aku harus menuju warung internet jika ingin menggunakan akses internet. Beberapa persyaratan berusaha aku pahami dan aku catat pada buku catatan kecil milikku. Salah satu persyaratan dari beasiswa ini adalah, membuat essai tentang passion. Mengapa aku menyukai bahasa jerman, dan apa cita-citaku. Apa yang akan aku lakukan jika kelak dewasa nanti.

Sesampainya di rumah, aku buka catatan kecil berisi poin-poin penting dan syarat dari pendaftaran beasiswa. Aku mulai menghela nafasku, mencoba membuat essai pada lembar kertas folio. Menikmati setiap untaian kata yang aku tulis, aku buat senatural mungkin. Mengenai kehidupan sekolah, keluarga, hingga membentuk karakter dan cita-cita pada diriku. Aku tersenyum lega ketika menyelesaikan kalimat terakhir pada paragraf essai. Aku melengkapi berkas persyaratan, lalu aku simpan rapi kertas essai ke dalam amplop coklat yang sudah siap untuk aku kirim melalui kantor pos. Yeah, besok pagi, aku akan kirim melalui kantor pos.

Tok..tok..

“Mba, dipanggil bapak. Disuruh turun ke bawah katanya” Ado mengetuk pintu kamarku yang sedang terbuka lalu menyampaikan pesan dari bapak kepadaku.

“Oh, iya. Sebentar ya” kataku lalu bergegas merapikan meja belajar dan turun ke lantai bawah. Dari atas tangga, aku melihat bapak dan ibu sedang diskusi dan sepertinya hal yang serius.

“Sini mba, duduk dulu” Ujar bapak. Aku menghampiri bapak dan ibu, lalu duduk di depan mereka yang baru saja menyelsaikan diskusi seriusnya.

“Gini, pendaftaran gelombang akhir di perguruan tinggi swasta itu seminggu lagi” Bapak berkata sambil menorehkan brosur universitas swasta yang bapak inginkan.

“tapi sepertinya kamu masih belum membuat keputusan ya, mba?”lanjut bapak bertanya

“um.. Dinda masih mau coba cara lain pak” kataku dengan berusaha meyakinkan bapak dan ibu.

“Maksud kamu?”

“iya, Dinda dapat brosur beasiswa sekolah di luar negeri. Dinda udah baca persyaratannya, dan Dinda juga udah melengkapi syarat”

Bapak mengerutkan dahi, tanda heran dengan kabar yang baru saja aku katakan. Seolah tidak percaya dan bertanya mengapa secepat itu tiba-tiba sudah menyiapkan persyaratannya?

“lalu, gimana dengan universitas ini? Kamu jadi mau daftar atau engga?” tanya bapak.

“Dinda mau coba daftar beasiswa aja pak. Karena Dinda masih mau berusaha sampai akhir”

“Dinda yakin, sama pilihan Dinda?” tanya ibu sambil mengarahkan pandangan ke wajahku lebih dekat.

“ iya bu, Dinda yakin.”

Bapak dan Ibu kemudian hanya saling menatap dan berusaha menerima keputusanku.

“baik, kalo gitu.. kapan pengumuman beasiswanya?”

“Terakhir pengumpulan berkas persyaratan lusa, pengumuman lolos berkas seminggu kemudian, pak. Trus kalau lolos, ada tes wawancara. Dan tes wawancara itu tes akhir, pak. Selanjutnya tinggal siap-siap training dulu 3 bulan sebelum berangkat ke Jerman.” Aku menjelaskan secara detail seperti yang tertera saat aku membuka website.

Bapak dan ibu berusaha memahami pilihan yang aku buat tanpa banyak berkomentar lagi tentang program beasiswa. Aku yang harus berusaha keras agar bisa terpilih mengikuti beasiswa.

***

Seminggu berlalu, aku mendapat kiriman surat dari lembaga beasiswa studi di Jerman. Senang bukan main.. karena aku lolos tahap awal. Sekarang, giliran mempersiapkan untuk tes wawancara. Aku bergegas menuju kamar ibu dan membuka lemari pakaian ibu. Mencari pasangan baju yang rapi dan bagus untuk tes wawancara. Ibu pun ikut membantu memilihkan setelan baju untukku. Aku senang, karena ibu tetap mendukung pilihanku.

Berlatih di depan kaca, dan berlatih mengatur gestur tubuh agar tidak terlihat kaku telah aku jalani. Adikku Gio dan Ado memberi semangat dengan membantu membrikan pertanyaan-pertanyaan seolah sedang diwawancara. Sampai pertanyaan lelucon pun mereka timpalakan agar suasana menjadi lebih cair.

“oke, saudari Dinda Hanindya.. sebutkan ibu kota Jerman!” seru Ado

“ah pertanyaan gampang.. Berlin!” jawabku

“Berlin itu... bukannya nama perhiasan ya?” ujar Gio

“itu berlian, mas!” kata Ado

“Apa bahasa jermannya makan?” tanya Gio

“Di bagian Jerman mana pak Habibi tinggal?” lanjut Ado

Dan kami pun saling tertawa, terlupa hari mulai malam dan waktunya istirahat. Sampai akhirnya kami tersadar saat Ado mulai menguap tanda bahwa ia mulai ngantuk.Aku bergegas menuju kamarku, setelah bersih-bersih dan sikat gigi.

Tes wawancara pun tiba..

Saat tes wawancara, aku banyak bertemu dengan perempuan dan laki-laki seusiaku. Tak jarang juga, ada yang lebih tua dariku. Mereka sepertinya bukan dari kalangan menengah sepertiku, malah terlihat seperti orang berada jika aku lihat dari pakaian dan gaya berpenampilan.

 Sambil menunggu giliran dipanggil, aku berusaha menenangkan diriku dengan mendengarkan musik pada earphone yang terpasang pada mp3player yang aku dapatkan saat ulang tahunku yang ke 17 dari Bapak. Karena, kata Gio saat kamu sedang merasa gelisah dan cemas, mendengarkan musik adalah cara terbaik untuk mengusir kegelisahan di hati. Boleh juga, dan sepertinya akan aku terapkan teknik ini tiap kali aku merasa nervous.

“Suka lagunya Coldplay juga, ya?” seorang laki-laki yang duduk di sebelahku menyapa dengan senyum manisnya. Sepertinya volume suara earphoneku terlalu keras sehingga pria yang duduk di sebelahku mendengar lagu yang sedang aku dengarkan.

“iya?” tanyaku sambil melepas earphone yang terpasang di telinga kananku.

“kenalin, gue Niko” ujar pria bertubuh tinggi dengan wajah oriental yang tadi menyapaku sambil mengulurkan tangan kanannya

“oh, Dinda” kataku lalu menyambut tangannya dengan bersalaman.

“mau wawancara juga?” tanya Niko

“iya” jawabku tersenyum

“oh.. eh, kelihatannya kayak baru lulus sekolah ya?”

“iya, baru tahun ini lulus”

“waah, keren”

“apanya yang keren?” aku bertanya heran

“keren aja.. gue waktu awal lulus sekolah belum kepikiran buat ikut beasiswa beginian”

“loh, trus emang lulus tahun berapa?” tanyaku sedikt penasaran

“2 tahun yang lalu sih”

“ooh, trus.. kemana abis lulus SMA?”

“kuliah. Tapi ya gitu.. gak sesuai passion. So, gue males-malesan deh kuliahnya”

“loh, trus kenapa mau ambil jurusan yang ga sesuai passion?” tanyaku lanjut yang awalnya sedikit penasaran semakin ingin tahu

“ lo lucu ya, daritadi tras trus aja kayak kang parkir, haha” timpalnya dengan tawa sedikit menggelitik. Aku mendapati diriku seolah mulai terlalu jauh menanyakan kehidupan pribadinya.

“eh, maaf.. gak sopan ya?” pria itu menghentikan tawanya dan memasang wajah bersalah

“engga apa-apa” jawabku

“Dinda Hanindya...” suara seserorang memanggilku untuk masuk ke ruang wawancara. Aku bergegas merapikan pakaianku dan berdiri siap memasuki ruang wawancara. Niko, melihat ke arahku lagi-lagi dengan senyum manisnya.

“good luck, Dinda!”

Aku hanya menjawab dengan senyum dan menundukkkan kepala saat itu. Lalu ku alihkan pandanganku untuk fokus menghadapi wawancara.

Tes wawancara telah dilalui, tak banyak pertanyaan yang aku dapat. Aku pun merasa yakin dengan jawaban yang aku lontarkan selama wawancara. Menanti hasil, hatiku mulai kalut.. apakah benar, aku akan diterima atau malah gagal.

***

Hari pengumuman hasil beasiswa pun tiba...

Mereka berkata, bagi peserta yang lolos tes akan mendapat kiriman surat dari pak pos. Pagi-pagi, aku sudah bangun sejak subuh dan terus berdoa agar pak pos datang ke rumahku membawa surat dari lembaga beasiswa. Menit demi menit berlalu, sejam dua jam berlalu..

Aku berkali-kali memastikan ke depan rumah menantikan pak pos tiba. Beberapakali aku menoleh ke arah kanan dan kiri memastikan ada yang datang dengan sepeda motor berwarna oren membawa surat.

“Mbaak mbaaak.. ada motor oren mbaa!” teriak Gio memanggilku dari luar rumah. Aku bergegas menuju ke luar rumah dan menoleh ke arah yang Gio tunjuk.

“mana manaaa?”

“eh.. kirain tukan pos gak taunya pak RT. Hehe” ujar Gio setelah motor mendekat.

“mari.. pak RT..” Gio menyapa Pak RT

“mari...” jawab pak RT sambil mengendarai motor orennya melewati kami.

Wajahku sedikit kesal.

Menunggu menjadi hal yang paling menjenuhkan.

Siang berlalu.

Langit pun mulai berganti petang.

Malam pun tiba..

Hatiku kacau.

Hai kalian.

Aku cemas.

Aku mulai berpikiran hal yang belum sempat terbayangkan olehku sebelumnya.

Aku berkata dalam diriku

Bodoh sekali aku, dihantui dan dipaksa oleh mimpi.

Mengapa waktu bapak menawarkan aku untuk daftar di universitas swasta, aku tidak coba daftar saja? Toh, kalau pun aku tidak diterima beasiswa setidaknya aku punya cadangan untuk masuk universitas dan bisa kuliah.

Lalu bagaimana ini? Aku harus apa?

Aku harus cari di pendaftaran mana lagi? Universitas mana yang masih menerima pendaftaran? Aku harus pilih jurusan apa?

“ mba.. daritadi kamu belum makan loh..” ibu menghampiriku dan mengusap punggungku

“bu.. Dinda malu bu” kataku sambil menunduk. Air mata keluar begitu saja ketika ibu datang dan duduk di sampingku. Ibu mengusap punggung dan merangkulku dengan kuat.

“sabar mba..pasti ada hikmahnya” ibu berkata dengan lembut.

Tangisanku tak dapat terbendung lagi. Aku mengeluarkan semua emosiku melalui tangisan yang mungkin sudah tertahan sejak sore. Sejak aku sadar, kalau pak pos tidak akan datang membawa surat beasiswa untukku. Sejak semua pikiran kalut berkecamuk dibenakku. Sejak semua harapan hanyalah tinggal harapan. Sejak semua usaha dan doa berakhir dengan takdir yang belum memihak kepada inginku.

 Ibu berusaha menenangkanku dan mengusap ar mata di pipiku. Memberikan pelukan yang hangat untuk hati seorang anak yang bersedih.

Saat emosiku mulai stabil, Bapak mengajakku untuk mendiskusikan bagaimana kelanjutan dari pendidikanku ini.

“solusinya, mungkin setahun ini kamu kerja atau kursus dulu mba” ujar bapak menenangkan.

“kamu mau, kursus bahasa jerman? Nanti, kalau sudah mantap ilmunya, baru tes lagi di UI tahun depan” Bapak melanjutkan pembicaraannya.

“tapi, kursus bahasa jerman dimana? Kursus bahasa inggris aja sekarang mahal.. apalagi jerman?” tanyaku tanpa bermaksud mematahkan solusi yang telah diberikan oleh bapak.

“bapak akan usahakan, yang penting kamu semangat belajar” kata bapak meyakinkan. Aku merasa semakin akan merepotkan bapak dan ibu. Bapak hanya karyawan swasta, sementara ibu sebagai ibu rumah tangga. Adikku 2, keduanya masih sekolah SMA dan SMP. Mengatur biaya untuk pendidikan anaknya pastilah bukan hal yang mudah. Aku berpikir, jika hanya untuk membiayai kursus saja menghabiskan banyak uang, lebih baik aku belajar sendiri dari buku atau internet.

“pak, nanti aja diskusi lagi. Dinda masih belum mau kursus. Percuma, karena akan mengeluarkan banyak biaya. Lebih baik belajar sendiri” kataku dengan sedikit sedih. Aku meminta agar pembahasan mengenai pendidikanku dilanjut lain hari karena hatiku masih sedih karena masalah beasiswa.

***

Pagi, selalu menawarkan cerita yang belum sempat terjawab.

Aku memulai hari dengan meyakinkan diri, bahwa takdir harus dijalani. Bahwa takdir tidak bisa ditolak. Hasil dari perjalananku ini, aku ambil hikmahnya. Banyak pelajaran yang bisa aku dapatkan. Aku harus lebih cepat, lebih berusaha keras, berdoa lebi keras, dan belajar lebih giat tentunya. Cita-citaku belum berubah. Aku masih membayangkan kelak jika aku mengenakan jas, pakaian formal, bertemu dengan para diplomat negara-negara asing, memperkenalkan Indonesia pada negara lain. Mempelajari budaya negara lain, dan keindahan segala perbedaan di dunia. Mungkin kelak, jika Tuhan memang meng-iya-kan keinginan dan cita-cita besarku, takakan aku sia-siakan segala perjuangan yang aku lalui. Pasti masih ada cara.. ini bukan akhir, ini awal dari perjuangan yang belum seberapa untukku.

“mbaaaa... mba Dindaaa...sini turun mbaaa” teriak Ado dari lantai bawah memanggilku. Aku menengok ke arah lantai bawah dari lantai 2 rumahku, lalu melihat di bawah pak RT sedang berbincang dengan bapak, ibu, Gio, dan Ado.

Sesampainya di bawah, mereka menatapku dengan senyum. Aku yang masih belum paham atas keberadaan pak RT bertanya-tanya ada apa ini?

“eh.. mba Dinda.. ini, bapak kemarin dapat kiriman surat dari pak pos” kata pak RT.

“iya, lalu bagaimana pak? Ada apa dengan surat bapak” tanyaku heran

“haduh, saya juga kaget tiba-tiba gak biasanya dapat kiriman surat apalagi dari pak pos” lanjut pak RT. Aku yang masih memasang wajah bingung, bertanya-tanya apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh pak RT?

“ini, maaf ya mba.. suratnya gak sengaja saya buka.. pas tahu isinya, kok tentang beasiswa ke jerman, apalh itu.. eh pas saya lihat lagi amplopnya saya baru ngeh kalau ini untuk mba Dinda”

“hah? Yang bener nih pak? Coba, boleh saya lihat suratnya?”

Pak RT memberikan surat yang sudah dalam keadaan terbuka. Aku membuka dengan penuh hati-hati, seolah tak menyangka dan merasa ini adalah mimpi. Aku lihat jelas, tulisan pada amplop tertulis nama lengkapku “Dinda Hanindya” aku mulai membaca isi surat. Senyum merekah menghiasi wajahku. Tak bisa ku sembunyikan, aku senang dan terkejut atas kejadian pagi ini. Surat di tanganku tak ku lepas. Aku tatap wajah bapak dan ibu, juga kedua adikku. Mereka seolah berkata “alhamdulillah, selamat ya Din..apa yang dinantikan tiba”

“sepertinya pak pos melewati rumah Dinda, langsung bablas ke rumah saya. Dan saat terima surat ini, saya lagi engga pakai kacamata. Jadi saya terima-terima aja. Maaf ya.. Dinda” Pak RT menjelaskan bagaimana surat ini bisa sampai di rumah pak RT. Ya, memang rumah kami bersebelahan. Mungkin saat itu pak pos datang disaat aku sedang berada di dalam rumah. Sehingga aku tak menangkap keberadaan pak pos yang datang. Aah.. masih tak menyangka rasanya seperti mimpi..

“terimakasih pak RT, sudah mengantarkan surat ini ya” ujarku dengan nada gembira.

“sama-sama.. kalau begitu saya kembali ke rumah ya..dan selamat untuk mba Dinda yang diterima beasiswa studi di jerman” pak RT menyalamiku dengan erat dan senyum lebar. Aku terima jabatan tangan pak RT dan senyum lebar pun merekah di wajahku.

Aku bersyukur, tidak hentinya bersyukur. Alhamdulillah.. aku yakin ini adalah anugerah yang Allah berikan untukku. Aku memeluk erat bapak, ibu, Gio, dan Ado yang ada di depanku. Merekalah sumber semangatku. Merekalah yang selalu mebuat hatiku tergerak menggapai impian. Aku sangat bersyukur bisa dikaruniai keluarga yang selalu bijaksana memberikanku keputusan pada pilihan hidupku.

Aku juga tidak lupa berterimakasih pada Liya yang sudah memberikan brosur kepadaku. Aku memberikan kabar padanya melalui telepon. Ia sangat senang mendengarnya. Ia juga memberikan ucapan selamat kepadaku. Indahnya, aku rasa kebahagiaanku kali ini tidak lagi bisa aku ukur dengan uang. Keluarga, teman, dan cita-cita..

Hari itu pun tiba...berpisah dengan mereka..

Perjalananku belum selesai. Karena aku akan memulai perjuanganku yang sesungguhnya. Berpisah dengan bapak, ibu, Gio, dan Ado. Aku harus mengikuti training selama 3 bulan di gedung asrama pelatihan studi jerman. Setelah itu, baru aku berangkat memulai studiku di Jerman. Selama 3 bulan itu, aku harus memulai belajar mandiri, disiplin, dan belajar lebih giat tanpa bertemu dengan sumber semangatku, yaitu keluargaku. Rasa sedih untuk berpisah bercampur aduk dengan rasa bangga terhadap hasil usahaku. Aku melangkahkan kakiku meninggalkan rumah.

Langkah kakiku yang berjalan tenang terhenti. Bukan karena ada hal yang menghalangi. Tapi karena aku ingin. Aku Berusaha melihat ke arah berlainan dari pandanganku. Menoleh ke belakang, dan dengan lembut menatap wajah bapak, ibu, kedua adikku Gio dan Ado. Meyakinkan diri bahwa mereka akan baik-baik saja. Bahwa aku pun akan baik-baik saja. Menguatkan hati, melangkah kembali menuju arah dimana aku harus melangkah. Selamat datang, masa depanku.. apapun pilihanku, apapun yang akan terjadi, aku harus selalu siap menjalaninya dengan sunguh-sungguh, dan menerima dengan lapang dada.

***

Di tempat training, aku mendapatkan banyak teman baru. Mereka tidak sedingin yang aku bayangkan. Mereka ramah, dan baik.

“hai, Dinda.. masih inget gue ga?”

Aku menoleh ke arah seorang pria yang memanggilku dari arah belakangku

“hai” jawabku tersenyum.

Dia berdiri dengan senyum manisnya seperti pertama kali bertemu.

JoomShaper